Ruang Lingkup Psikologi Agama
Secara pasti belum ada keterangan kapan dimulainya kajian psikologi agama secara ilmiah. Namun para ilmuan bahwa kajian hubungan agama dengan kejiwaan telah terdapat pembahasan dalam berbagai kitab suci agama-agama. Untuk menetapkan secara pasti kapan psikologi agama itu mulai dipelajari memang agak sulit. Baik dalam kitab suci maupun sejarah agama tidak dijumpai penjelasan mengenai hal itu. Tetapi penjelasan mengenai hubungan antara kejiwaan dengan agama banyak diungkapkan oleh berbagai kitab suci. Seperti seorang yang beriman kepada ALLAH SWT,berbuat baik dan banyak beribadah akan menjadikan jiwanya tenang dan tentram dan akan bahagia dunia dan akhirat. Begitu juga sebaliknya, orang yang berbuat yang tidak beriman dan berbuat maksiat ia akan gundah dan jiwa akan sesak dan tidak tenang.
Seperti yang dikemukan sebelumnya bahwa psikologi agama merupakan cabang psikologi,sebelum menjadi ilmu yang otonom,psikologi agama memiliki latar belakang sejarah perkembangan yang cukup lama. Karena itu,psikologi agama dinilai sebagai cabang psikologi yang relatif muda. Untuk menetapakn secara pasti kapan psikologi agama mulai dipelajari memang terasa agak sulit. Baik dalam kitab suci,maupun sejarah tentang agama-agama yang tidak terungkap secara jelas mengenai hal itu. Namun demikian, walaupun tidak secara lengkap ternyata permasalahan yang mnejadi ruang lingkup psikologi agama banyak dijumpai baik melalui informasi kitab suci agama maupun sejarahnya.
Mengapa dalam Bimbingan dan konseling Islam harus mempelajari psikologi agama?
Karena Bimbingan dan Konseling Islam itu,menyangkut dengan jiwa dan kepribadian manusia, yang di dalamnya berkaitan dengan psikolgi agama,di dalam psikologi agamapun terdapat cara mengatasi pribadi yang psikologis nya terganggu. Konseling agama bukan berarti penyuluhan agama dalam artian penerangan agama seperti yang dilakukan juru penerang agama atau pegawai Departemen Agama di desa-desa, tetapi merupakan Bimbingan dan Penyuluhan (konseling) kehidupan secara umum dengan menggunkan pendekatan agama (islam).
Perkembangan jiwa keagamaan pada orang dewasa dan usia lanjut. Manusia adalah makhluk yang eksploratif dan potensial,dikatakan mahkluk eksploratif karena manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri baik secara fisik maupun psikis. Manusia disebut sebagai makhluk potensial karena pada diri manusia tersimpan sejumblah kemampuan bawaaan yang dapat dikembangkan. Gambaran dan tingkah laku keagamaan orang dewasa dapat pula dilihat dari sikap keagamaannya yang memiliki ciri-ciri antara lain:
Menerima kebenaran,agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang,bukan secara ikut-ikutan.
Bersikap positif thingking terhadap ajaran dan norma-norma agama dan berusaha mempelajari dan pemahaman agama.
Keberagamaan orang yang sudah usia lanjut diantaranya:
Kehidupan keagamaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemantapan.
Meningkatnya kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan.
Mulai muncul pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat secara lebih sungguh-sungguh.
Maka,hendaklah manusia merenungkan, dari apa ia ciptakan. Ia diciptakandari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada (Q.S at-Taariq[86]: 5-7).
Berkaitan dengan hal ini, terdapat sebuah atsar yang menyebutkan bahwa” Barang siapa yang mengenal dirinya, niscaya ia mengenal Tuhannya.”
Disamping itu, Al-Qur’an juga memuat petunjuk mengenai manusia, sifat-sifat dan keadaan psikologisnya yang berkaitan dengan pembentukan gambaran yang benar tentang kepribadian manusia,motivasi utama yang menggerakkan perilaku manusia,serta faktor-faktor yang mendasari keselarasaandan kesempurnaan kepribadian manusia dan terwujudnya kesehatan jiwa manusia.
DAFTAR PUSTAKA
JALALUDDIN,Psikologi Agama,Perpustakaan Nasional,-jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2005
Ancok, Djamaluddindan Fuad N.S, Psikologi Islami,Pustaka pelajar,Yogyakarta,Cet. I,1994
JALALUDDIN,Psikologi Agama,Cet. 13-Jakarta Rajawali pers,2010
Muhammad Ustman Najati,Psikolgi dalam Al-Qu’an: Terapi Qur’ani dalam penyembuhan Gangguan kejiwaan, tej.M. Zaka al-farisi (Bandung: Pustaka Setia,2005).